Hari Sabtu kemarin (21/05/2011) saya dengan pacar saya berjalan-jalan ke ragunan. Kami mengitari kandang-kandang dengan menggunakan sepeda,, seneng deh bisa goes bareng sama yayangku yang tersayang
. OK langsung saja ke topik pembahasan.
Mungkin ada yang bertanya mengapa saya memberikan judul postingan “tukang foto itu..” bukan,, bukan karena saya kenal dengan tukang foto itu. Jadi awal kisahnya beginiii….
Setelah selesai bersepda dengan yayangku kami berdua istiraht di kursi depan patung gajah dan burung pelikan tinggal (kalo yang udah pernah ke ragunan pasti tau tempat yang saya maksud). Ketika duduk,, kami melihat seorang tukang foto menjajakan jasanya memotret dengan harga 20ribu dengan 2 kali jepret dan 3 cetakan foto. Langsung terbayang ingatan saya, dulu waktu saya masih bayi dan masih kecil di depan rumah saya sering sekali lewat tukang foto keliling, bahkan tukang foto keliling tersebut menjadi langganan keluarga saya, dari saya bayi hingga saya sekolah SD jika ingin berfoto ibu pasti memanggil tukang foto keliling tersebut, saya masih ingat kapan jadwal tukag foto keliling tersebut lewat depan rumah saya. Ia selalu datang jam 3 sore setiap harinya. Namun,, sudah beberapa tahun terakhir sejak munculnya kamera berteknologi tinggi dengan harga yang murah dan munculnya hape yang memiliki kamera dengan harga murah pula saya tidak pernah mendapati bapak tukang foto keliling tadi.
Ya, sama halnya dengan tukang foto yang berada di ragunan tadi, ia juga harus bersaing dengan canggihnya hape sekarang yang berkamera yang mengikis pendapatannya. Namun ia tak gentar begitu saja, dengan kesabarannya, dan usahanya ia terus menjajakan jasa memotretnya kepada pengunjung yang datang kala itu.
Banyak pengunjung yang melintas di depannya. Namun, tak satupun dari mereka yang mampir untuk menggunakan jasa potret tukang foto itu. Bapak itu terus tak patah arang! hingga akhirnya ada rombongan keluarga yang mampir untuk foto bersama. Senyum sumringah terpancar dari wajah tukang foto itu. Ia keluarkan kamera digital nya jepret 2x lalu ia cetak.
Rombongan keluarga itu pun menunggu dan tak dinanya, salah satu dari mereka memiliki foto digital bahkan lebih canggih dari yang dipunya oleh si bapak itu. Oh Tuhaaannn… Maha adilnya engakuuu,,, aku yakin keluarga tersebut kau ketuk pintu hatinya untuk melangkah menuju tukang foto itu.
Tukang foto yang lekang dimakan jaman…Ironis dengan wakil tukang foto itu yang ada di Senayan sana yang mempeributkan kenaikan tunjangan, gaji, fasilitas mewah dan kunjungan kerja ke luar negri. Mungkin sesekali mereka harus main-main ke ragunan.
Regards,
Saya